Syaikh Ahmad Al Badawi

Gambar
Berikut adalah ringkasan kisah kehidupan dan keramat Syeikh Ahmad al-Badawi r.a., sosok Waliullah yang bergelar Qutb al-Ghauts:       SYEIKH AHMAD AL-BADAWI R.A.   Waliullah Qutb al-Ghauts   Riwayat Hidup dan Karakter Beliau hidup pada tahun 596 H – 675 H dan wafat di Mesir. Makamnya di kota Tonto senantiasa ramai dikunjungi para peziarah. Sejak usia dini, beliau telah hafal Al-Qur’an dan berguru kepada dua tokoh besar, yaitu Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan Syeikh Ahmad Rifai.   Karakter beliau sangat luar biasa:   - Selalu menatap matahari hingga kornea matanya tampak merah membara, sehingga saat berjalan ia sering menunduk atau menatap langit. - Gemar berkhalwat dan beribadah, pernah berpuasa total lebih dari 40 hari. - Lebih suka diam dan berkomunikasi dengan isyarat, namun lidahnya tak henti-henti berdzikir dan bershalawat. - Pernah bertahun-tahun berdiam diri di loteng dan atap masjid di Thondata untuk beribadah siang dan malam. ...

mengenal sosok KH Muslih bin Abdurrahman mranggen

Nun jauh di pinggiran Kota Wali Demak pada tahun 1908, lahirlah seorang tokoh besar yang kelak menjadi ulama dan pejuang kemerdekaan, KH Muslih Abdurrahman. Beliau dikenal sebagai maha guru thariqah ulama Jawa yang memiliki peran penting dalam penyebaran ajaran Islam dan pengembangan tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia. Dalam artikel ini kami mengajak teman-teman untuk mengulas tentang beliau 

Latar Belakang Kelahiran dan Keluarga

KH Muslih Abdurrahman lahir di Desa Suburan, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, dari pasangan KH Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah. Ayahnya adalah pendiri Pesantren Suburan Mranggen yang sudah berdiri sejak 1901. Dari garis ayah, beliau memiliki silsilah yang bersambung dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang sangat dihormati di tanah Jawa. Sementara itu, ibunya merupakan keturunan Sunan Ampel dan Ratu Kalinyamat, yang juga memiliki peran penting dalam sejarah Kesultanan Demak.

Keturunan yang mulia ini menjadi fondasi kuat bagi KH Muslih dalam menapaki jalan keilmuan dan spiritual. Keluarga beliau juga dikenal sebagai keluarga yang taat beragama dan aktif dalam pengembangan pendidikan Islam di daerahnya.

Pesantren Suburan Mranggen, tempat KH Muslih Abdurrahman menimba ilmu dan mengajar

Masa Pendidikan dan Pengembaraan Ilmu

Sejak kecil, KH Muslih sudah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu agama. Beliau belajar langsung dari ayahnya dan kemudian melanjutkan pendidikan kepada para ulama besar di berbagai tempat. Di antaranya adalah Syeikh Yasin Al-Fadani Al-Makky di Haromain, serta Kyai Ibrohim Yahya dan Kyai Ihsan di Mranggen.

KH Muslih juga berbai'at dalam Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah kepada KH Abdurrahman Menur Mranggen, dan kemudian menjadi khalifah atau mursyid setelah dibai'at oleh Syeikh Abdul Latif Al-Bantani. Selain itu, beliau pernah belajar di Perguruan Islam Termas Pacitan di bawah asuhan KH Dimyati, yang menambah kedalaman ilmu dan spiritualitasnya.

Selama sembilan tahun, beliau mondok di Pesantren Sarang yang diasuh oleh KH Zubair Dahlan dan Syekh Imam. Di sana, beliau juga menjadi santri kalong di bawah bimbingan Kyai Maksum Lasem. Pengalaman ini memperkaya wawasan keilmuan beliau, terutama dalam bidang tasawuf dan ilmu kepemimpinan.

Peran dan Kontribusi dalam Pengembangan Pesantren Futuhiyyah

Pada tahun 1927, Pesantren Futuhiyyah yang diasuh oleh ayahnya mengalami perubahan signifikan. Saat itu, madrasah yang ada sempat berhenti beroperasi setelah dikelola oleh NU Cabang Mranggen. Menanggapi hal ini, KH Muslih bersama kakaknya, KH Usman, mendirikan Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek pesantren tersebut.

 Nama Futuhiyyah sendiri mulai dikenal sejak saat itu, atas usulan KH Muslih. Madrasah ini menjadi pusat pendidikan agama yang penting di daerah Mranggen dan sekitarnya

Keilmuan dan Kepemimpinan Spiritual

Keilmuan yang mendalam ini menjadikan beliau sosok yang dihormati dan dipercaya sebagai mursyid dalam Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Beliau juga menjadi salah satu pendiri Rois Jam'iyyah Ahlut Thariqah al-Mu'tabaroh an-Nahdiyyah (JATMAN), sebuah organisasi tarekat yang berperan penting dalam pengembangan tarekat di Indonesia.

KH Muslih Abdurrahman dikenal memiliki keilmuan yang luas, meliputi ilmu kalam, bahasa Arab, tauhid, fiqh, tafsir, hadist, dan ilmu tasawuf. Selain itu, beliau juga menguasai ilmu kepemimpinan, siasah (politik), ilmu hikmah, dan ilmu jihad fi sabillah, termasuk aspek kemiliteran yang menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan

Warisan dan Pengaruh KH Muslih Abdurrahman

KH Muslih Abdurrahman meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi dunia pesantren dan tarekat di Indonesia. Melalui pengajaran dan kepemimpinannya, banyak ulama dan santri yang terinspirasi untuk mendalami ilmu tasawuf dan memperkuat keimanan mereka, melalui tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah 

Saya percaya bahwa mengenal lebih jauh tentang tokoh seperti KH Muslih Abdurrahman dapat memperkaya pemahaman kita tentang sejarah dan ajaran tarekat, serta memperdalam spiritualitas dalam Islam.

Beliau juga menjadi contoh nyata bagaimana seorang ulama dapat berperan aktif dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Dengan latar belakang keluarga yang kuat dan pendidikan yang mendalam, KH Muslih berhasil mengukir sejarah sebagai maha guru thariqah ulama Jawa yang dihormati hingga kini.

Dengan memahami perjalanan hidup dan kontribusi KH Muslih Abdurrahman, kita dapat mengambil pelajaran berharga tentang pentingnya ilmu, keteguhan iman, dan kepemimpinan spiritual dalam membangun masyarakat yang beradab dan beriman. Semoga tulisan ini menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah dan ajaran tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THORIQOH QODIRIYYAH WA NAQSYABANDIYYAH JABAL QUBAIS

Syaikh Abbas bin Afandi Al Ilyasa Garut

LATHIFAH 7(TUJUH) DALAM AJARAN THORIQOH QODIRIYYAH WA NAQSYABANDIYYAH